Terimakasih..

Standard

Aku: Abi, Umi boleh pakai celana panjang aja gak di pondok kopi (rumah mertua)? (kebetulan masih ada kakak ipar laki-laki di sana)
Abi: Jangan ya mi, kan ada laki-laki gak muhrim
Aku: Kan ribet bi
Abi: Jangan ya (lembut seraya tersenyum)

Aku: Bi, Umi jilbabnya pendekin dikit boleh? (saat akan pergi ke tempat yang agak merepotkan)
Abi: (Menggeleng bermuka datar)
Aku: Dipanjangin dikit boleh
Abi: (Mengangguk bermuka ceria)
Aku: (melipat ulang jilbab agar bisa lebih panjang)

Abi: kaos kakinya mana? udah pakai celana panjang dalemannya? Ini mana mansetnya?
Aku: kaos kaki di lantai 1, celana udah dipake, manset ilang hee

However, terimakasih telah selalu mengingatkanku untuk menjaga auratku. Aku paham bahwa aku adalah hartamu, maka aku wajib menjaga harta itu. Aku juga paham bahwa hanya engkau suamiku yang memiliki hak atasku, yang bertanggung jawab atas diriku. Aku tahu kau mencintaiku dan menghormatiku, sehingga kau menginginkan aku untuk mencitai dan menghormati diriku sendiri dengan menutup auratku. Terimakasih, kau telah memuliakanku..

Standard

Inilah batas dimana engkau mulai melihat kehampaan ruang
tiada yang mengisi sekalipun udara
ini bukan tentang hati
tapi tentang tangan yang telah lama meninggalkan pena
tentang mata yang telah lama tidak bercinta dengan kumpulan kata
ayolah, Ang..

Malu

Standard

Ya Alloh, sungguh aku malu pada Mu

Betapa aku begitu lemah padahal Kau telah menciptakanku dengan sebaik-baiknya bentuk

Ternyata tuaian tak lagi panen hura

Kemana saja tangan ini selama ini?

Kaki? Mulut? Mata?

aku jadi merasa hambar,

Tak lagi menarik hati

Tak lagi menukil tajam

Aku merasa gagal

Apakah aku telah putus asa?

Jangan.

Ujung

Standard

Apakah kau tahu..

bahwa aku telah berupaya untuk berfilosofi

atau sekedar mengarang tentang suatu filosofi

tapi aku tak bisa

karena bagiku syukur adalah syukur, sabar adalah sabar, dan cinta adalah cinta

.

Bertemu denganmu, dengannya, dengan mereka adalah bagian dari ketiga itu

Ada yang suka, ada yang duka

Ada yang rasanya hendak ku hapus, ada yang selalu ingin ku pertahankan

Namun, semuanya tatap berujung pada 3 itu

Syukur sabar dan cinta

.

Hi Blog.. how r u?

Standard

Assalamu’alaikum warohmatullah..
Hai, blog! Sudah lama sekali tidak membuka dan menulis di tempatmu.
Kamu apa kabar? Sepi ya? Maaf ya…
Lagi-lagi aku tak menepati janji untuk kembali menghidupkanmu,
Bukan berarti aku melupakanmu yaa..😉

Kabarku baik-baik saja,
Jauh lebih baik dari kemarin-kemarin.
Setiap hari, semakin bahagia, semakin bersyukur.
Aku sudah menikah, kau tahu?
Iya iya,, tentu saja kau tahu, beberapa postingan sudah kusisipkan tentang pernikahanku, tentang suamiku.
Tapi aku sudah memiliki anak perempuan, apakah kamu jg sudah tahu?
Belum?
Alhamdulillah, dia cantik dan sehat.
Namanya Aisyah Hanaa Dzakiyyah
Dia juga cerdas!
Usia 1 bulan sudah bisa merespon dengan verbal
“aaaaa..aaooo..aaaooo”
Dan skrg, di usianya 4 bulan sudah mampu memangil “ummi”
Masya Alloh, betapa senangnya hatiku mendengarnyaa..
Sambil menangis memanggil “ummi”
dan ada lagi yang lebih lucu,
setiap sehabis dia bersin, kami selalu mengucapkan “alhamdulillah”
Dan entah bgmn, dia pun mengucapkannya..
Dua kali kejadiannya
“Hamlah” katanya!
Subhanallah, Aisyah!
Putri kecil ummi yang sehat dan cantik!
Insya Alloh menjadi anak yang shalihah dan cerdas ya..
Baik akhlaknya, lembut tutur katanya, santun sikapnya.
Ramah kpd sesama, berbakti pada orang tuanya.
Calon kakak yang mjd tauladan baik utk adik-adiknya.
Manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Di sayang Ummi,, Di sayang Abi
Di sayang Alloh..

aamiin..

Mulai Lagi!

Standard

Ok, Ang! Sudah saatnya kembali menulis. Daripada kenangan-kenangan indah itu cuman ngendep (baca: mengendap) doang di kepala dan hati, mending tulis! Tulis! Tulis! Ayooo.. TULIIIISSS! Iya ini mau nulis, bawel aje nih!

.

Nah, yah, kan kan kan ginii.. Ada beberapa tulisan yang kayaknya kudu dijadiin tulisan beneran. Di list aje, Ang, biar kagak lupa! Ok sip, ta’ list aja di kertas. Jangan di kertas, ntar bakal ilang! Jiah, bawel amat! Dimana dong nih? Di sini aja, di blog ini.. jadi kan gak bakal kebuang, maksudnya bakal terarsipkan dengan baik. Oh gitu ya.. ok deh! Jadi listnya apa aja?

Nih dieee..

–          Bukan Tanpa Usaha (isinya ttg perjuangan demi perjuangan, kecuali perjuangan kemerdekaan😛 )

–          Repiew-an dari bacaan ttg parenting, khususnya buku possitive parenting. Yah jadi amal shalih kl di bawa ama orang2 trus bermanpaat buat mereka kan!

–          Ttg Bisnis, ttg SAFA lebih tepatnya. Isinya bagaimana perjalanan SAFA.. Yah, walau belum jadi bisnis yang besar, tapi mudah2an tulisan ini jadi pelajaran buat Ang. Sukur2 jadi pelajaran juga buat yang baca

Trus apa lagi? Itu dulu aja ah.. Semangat Nulis, Ang! Lumayan lho manfaatin waktu pas Aisyah bobo! Sipirili!

Menangislah..

Standard

Seorang ikhwah mengeluhkan, ada kehilangan yang ia rasakan antara beberapa tahun lalu ketika ia aktif di dakwah kampus dengan hari-hari ini dalam medan dakwah yang berbeda. Diantaranya adalah menangis. Ikhwah lain membenarkan. “Dulu, begitu mudah kita menangis ketika mabit, mendengar taujih, dan hampir di semua acara tarbawi lainnya,” katanya mengenang.

Entah mengapa, beberapa waktu terakhir ia susah mengeluarkan air dari mata yang sama. Dan ternyata bukan dua ikhwah itu saja yang mengalaminya.

Menangis, menangis karena Allah, menyesali dosa, takut neraka, mengadu padaNya akan beratnya beban, merisaukan nasib umat yang tengah diperjuangkan, atau bersedih atas kondisi kaum muslimin di kawasan, adalah bagian tazkiyah yang harusnya tetap bertahan dalam dakwah. Mungkin tidak terbayang bagi orang-orang yang keras hati, bahwa bulir-bulir bening itu akan membasahi pipi. Namun demikianlah, menangis telah dicontohkan Sang Nabi dan para sahabatnya, generasi terbaik umat ini.

“Takkan masuk neraka orang yang menangis karena Allah…” demikian Sabda Rasulullah yang diriwayatkan Tirmidzi.

Pada kesempatan lain, manusia mulia itu menyebutkan tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungannya. Dari riwayat Al-Bukhari dan Muslim kita mendapatkan kabar gembira. Bahwa salah satu dari tujuh golongan itu adalah “orang yang ingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya berlinang.”

Pada kesempatan berbeda, beliau juga mengabarkan keutamaan menangis yang sangat luar biasa. “Dua mata yang tak tersentuh api neraka,” sabda Sang Nabi yang direkam Tirmidzi, “mata yang menangis karena takut pada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah”

Rasulullah pernah meminta Ibnu Mas’ud membacakan Al-Qur’an. Ibnu Mas’ud kala itu membaca surat An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat 41, Rasulullah menyuruhnya berhenti sambil berlinang air mata membasahi pipi.

Para sahabat adalah generasi yang banyak menangis. Para ahlus suffah rela hidup miskin asalkan bisa lebih dekat kepada Allah dan dapat menyimak hadits Nabi. Ketika turun ayat tertentu, hati mereka bergetar, air mata perlahan keluar. Seperti saat itu, turunlah surat An-Najm ayat 59-60. Nabi menangis, para sahabat ahlus suffah yang ada di sana juga menangis.

Umar bin Khatab membaca surat Yusuf. Ketika sampai di ayat 86, sahabat Nabi yang kekar, tegap dan ksatria itu menangis sejadi-jadinya. Tenggorokannya seperti tercekik. lalu Umar yang ditakuti syetan itu terjatuh dan demam.

Suatu hari Ibnu Umar membaca surat Al-Muthaffifin, ketika sampai di ayat 6, ia terhenti lama sekali karena tangisnya yang panjang tak kunjung reda

Selain menangis ketika mentadaburi Al-Qur’an, para sahabat juga mudah menangis ketika mengingat akhirat, alam barzah dan kematian.

Utsman bin Affan yang dermawan dan ahli sedekah, jika melewati kuburan menangis hingga janggutnya basah. “Kubur itu adalah gerbang akhirat,” katanya, “jika disiksa di sana disiska pula kita di neraka”

Abu Hurairah menangis di kala sakitnya. Ketika ditanya ia menjawab, “Bukan dunia yang kutangisi, tapi panjangnya perjalanan yang akan kuhadapi dan sedikitnya bekal yang kubawa ke akhirat nanti.”

Memuhasabahi dirinya, membuat para sahabat menangis. Mereka khawatir ada penyakit hati dalam dirinya, padahal mereka adalah orang-orang yang paling mulia.

Umar pernah mendapati Muadz bin Jabal menangis seorang diri. Ternyata Muadz menangis karena mentadaburi hadits tentang riya’ lalu ia khawatir penyakit itu hinggap di hatinya.

Salman al Farisi menangis menjelang wafatnya. Ia takut tak bisa memenuhi nasehat Nabi untuk zuhud dalam hidup ini. Padahal harta Salman saat itu hanyalah ember untuk mencuci dan mandi.

Tidak mendapati cita-cita akhiratnya tercapai juga membuat sahabat seperti Khalid bin Walid menangis. Air mata yang terus mengalir membuat Khalid tak bisa tidur menjelang wafatnya. “Aku ingin mati syahid,” kata panglima perang tak terkalahkan itu, “tapi kini aku akan mati di atas tempat tidur seperti matinya unta”

Bahkan, kekayaan ataupun kemenangan juga membuat sahabat menangis. Mereka khawatir jika kekayaan atau kemenangan itu justru menjadi sebab kecelakaan di masa yang akan datang; baik di dunia ini maupun di akhirat negeri abadi.

Abdurrahman bin Auf menangis karena kekayaannya. Ia justru iri dengan Mushab, dai muda yang dianggapnya lebih baik dari dirinya; Begitu miskinnya hingga kain kafan Mush’ab di hari syahidnya tak cukup menutup seluruh tubuhnya.

Ketika wilayah Islam bertambah, Abu Darda justru menangis Jubair yang bertanya dijawabnya: “Jika mereka ingkar hukum Allah, kelak akan dituai hasilnya”

Jika demikian halnya, bukankah terlalu banyak sebab bagi kita untuk bisa menangis. Namun mengapa? Kita berlindung kepada Allah dari hati yang mengeras dan kalbu yang tidak ikhlas.

Sumber: http://www.fimadani.com/menangis-beginilah-para-sahabat-menangis/#.TurC3k1id_4.facebook