Ismail Marzuki
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
S’lalu dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata
Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya
Indonesia Ibu Pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi
suddenly, these words just came out…
Bukankah setiap pertemuan itu pasti ada maksudnya?
Lalu mengapa begitu khawatir?
Ah, setidaknya untuk dijadikan pembelajaran.
Bahwa hidup adalah tentang memilih dengan kesabaran Dan berkomitmen dalam kerasnya ikhtiar..
Ketika penawaran = permintaan…
Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. (Al-Mulk: 3)
Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. (Al-An’aam: 132)At the same time
An old path had come,
When I was getting doubt about my faith of something,
It opened a new-old door of a mysterious journey to me
Future can not be read
Future can not be predict
It was me, the only one who understand.
And I become a major player.
At the same time
A new path had come
When I was getting doubt about my faith of something.
It opened a brand new door of unknown journey to me
Future can not be read
Future can not be predict
It was me, the only one who know about all the story
Yes, I was still a major player
And.. at once, an antagonist player too



















